CEPER DENGAN POTONG PER KEONG, TAPI ENAK

Kadang, bagi sebagian orang, penampilan mobil yg telah didisain oleh pabrikan dipandang kurang bagus. Salah satu yang sering menggugah hati pemiliknya untuk diubah adalah ketinggian mobil (ground-clearance = GC). Pada mobil pribadi utk pemakaian sehari-hari biasanya cenderung GC dipendekkan, atau ‘diceperin’, untuk keperluan estetika, sedangkan pada pemakain lain, misalnya pada mobil-mobil offroad, akan ditinggikan.
Pada tulisan ini saya membatasi pada lingkup : pemendekkan GC, atau penceperan. Kemudian penceperan tersebut juga saya batasi dalam lingkup : dengan cara pemotongan per keong (bukan dengan mengganti dengan lowering kit, dll, dan bukan untuk per jenis lain)
Namun problem dari penceperan mobil adalah per yang bertambah keras. Hal ini membuka kemungkinan terjadinya ketidak-harmonisan antara kekerasan per yang baru dengan shok yang ada. Saya katakan kemungkinan, karena bisa saja terjadi 2 kemungkinan yang lain

1. Hasil pemotongan per, menghasilkan tingkat kekerasan per yang masih dalam batas toleransi. Untuk mobil pribadi, secara umum dapat dikatakan bahwa pertambahan kekerasan per sebanyak 10% masih dalam batas toleransi. Pada sebagian orang kurang peka, atau cukup toleran dengan ayunan mobil yang terjadi, pertambahan kekerasan per sebanyak 20% mungkin dapat masih dapat diterima, namun tetap saja terjadi pertambahan resiko ketidakstabilan mobil pada kecepatan dimulai dari 80km/jam, sehingga pada keadaan dimana dibutuhkan manufer untuk menghindari benturan/kecelakaan, atau ketika hendak mendahului kendaraan lain pada kecepatan tinggi, justru mobil menjadi oleng.
2. Keadaan awal shokbreker memang terlalu keras untuk per sebelum dipotong. Setelah dipotong dan kekerasan per bertambah, maka mungkin malah terjadi kesinkronan antara shokbreker tersebut dengan per yang telah dipotong. Dengan kata lain, ayunan mobil malah jadi enak.
Bisa dikatakan bengkel jasa potong per sdh cukup banyak. Di Jakarta, di sekitaran jl. Fatmawati, beberapa bengkel jenis ini bisa kita temui. Cuma saja, mereka tidak bisa menyediakan atau memperbaiki shok yang kekuatan redamnya sinkron dengan per yang telah dipotong itu. Upaya yang dilakukan dengan pendekatan pengalaman dan feeling seringkali mengecewakan. Parahnya, dibentuklah opini : “kalau kepingin ceper, ya … memang mesti begitu ayunan mobilnya”, dengan pengertian bahwa kalau ceper itu ayunan mobil akan menjadi seperti naik gerobak yang kaku, atau naik perahu yang banyak ngayun sampai bisa bikin penumpang muntah. Dan opini itu memang sekarang ini telah terbentuk menjadi sebuah kesalah-kaprahan. Salah kaprah akibat tidak mampunya bengkel mengerjakan penceperan mobil itu dari aspek per sekaligus juga dari aspek shok-nya, 2 komponen yang paling menentukan bagaimana jadinya ayunan mobil dan bagaimana enaknya mobil itu dikendarai.
Pendekatan analitis adalah sesuatu yang mutlak dilakukan untuk mendapatkan hasil yang mendekati ideal. Mengandalkan pengalaman dan feeling saja tidak cukup, bahkan sulit untuk dicapai hasil yang mendekati ideal itu. Dengan alat ukur dan teknik pengukuran yang benar, pengukuran kekerasan per, pengukuran berat (sayap) mobil, pengukuran kekerasan kompresi dan rebound dari shok adalah variable-variabel analisa yang mesti dilakukan. Analisa atau perhitungan yang dilakukan pun mestinya mengacu kepada standar ISO 2631-1973, yakni standar internasional tentang ayunan yang dapat diterima tubuh manusia dengan nyaman, yakni ayunan yang memenuhi rentang frekuensi 4 – 8 Hertz dan percepatan ayunan 0 – 0.8m/s2.
Itulah yang tidak pernah dilakukan di dalam jasa penceperan mobil, yang sudah puluhan tahun usia bengkelnya. Apalagi sudah kadung terbentuk kesalah-kaprahan sebagaimana yang telah disampaikan di atas. Dan sudah barangtentu kesalah-kaprahan itu harus dibuang jauh-jauh

Tentang penulis :
Toras Siahaan adalah seorang sarjana fisika. Beliau adalah pemilik dari bengkel MUZE, di Jatiasih

Loading...

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.